Setelah beberapa wilayah di dunia mengintegrasikan -paling tidak- ekonominya, maka cepat atau lambat negara-negara serumpun ASEAN juga tengah menuju kesana sebagai suatu keharusan keekonomian.

Proses menuju kesana tentu tidak mudah. Banyak “tangan” yang menghendaki agar kompetisi ekonomi dunia tetap berjalan seperti sediakala dengan dominasi barat dan eropa di pucuk tertinggi dari rantai keuntungan ekonomi kapitalisme. Belum lagi faktor X dimana ada saja pemain baru yang ingin berada di pucuk tertinggi pula.

Karena itulah kita sebagai bangsa harus mewaspadai intrik-intrik global yang tengah bermain yang memperlambat terjadinya UniASEAN. Jangan sampai kita mudah terprovokasi segala tarikan yang berencana  memundurkan integrasi ASEAN.

Gejalanya mulai tampak ketika pertemuan tingkat tinggi ASEAN di Bangkok yang digagalkan oleh demonstrasi lokal. Aneh, karena Raja Bhumibol yang sangat berwibawa tidak diberi kesempatan untuk turun tangan sampai menit terakhir yang kemudian mengakibatkan gagalnya pertemuan tersebut menyepakati agenda penting menuju -setahap lagi- penyatuan ekonomi ASEAN.

Kemudian peristiwa Ambalat yang mengadu domba Indonesia dan Malaysia, padahal masalah perbatasan adalah masalah biasa dari dulunya pula. Meja perundingan adalah yang terbaik untuk menyelesaikannya karena tidak ada satu pihak yang mau merugi 100 persen. Harus ada serah terima. Kita harus menyadari pula ada kepentingan uang dan minyak di Ambalat. Dan uang (kapital) tidak bisa dikerangkeng dengan nasionalisme. Janganlah kita melupakan cerita minyak di balik memisahnya Timor Leste.

Karena itu peristiwa kecil semacam Manohara dan rentetan pengungkapan berita penyiksaan TKI di negeri jiran Malaysia juga bisa berada dalam perspektif ini. Kita harus cukup berhati-hati.

Bagaimanapun kita semua adalah saudara. Baik Malaysia dan Indonesia adalah salah satu dari sekian banyak bangsa yang sesaudara dan dekat satu sama lain.

Anda tahu pendiri Angkor Wat di Kamboja/Khmer pada abad ke 12 ? Namanya adalah  Jayavarman II. Kalau merujuk namanya mirip dengan raja pertama kerajaan Kutai pada abad ke 4 yakni Aswawarman di pulau Kalimantan. Ini adalah salah satu bukti mudah bahwa kita semua adalah serumpun. Ayah Aswawarman yakni Kudungga adalah pembesar dari kerajaan Campa yang wilayahnya dulu menyebar di Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, Malaysia dan Pulau Hainan (Tiongkok). Belum lagi kemiripan bahasa dan lainnya. Bukti paling jelas adalah kemiripan ciri fisik yang menonjol.

Cepat atau lambat kita akan menyatu, karena itu dibutuhkan kedewasaan berpikir dan mencegah suatu hal menjadi tidak terkendali. Paling tidak semakin lama kita menyatu, semakin tertinggallah kita secara ekonomi.

_________________________________________________________

Dengan gelaran yang baru pertama kalinya terjadi di Indonesia, Noyogenggong akhirnya resmi ditampilkan oleh Satria Piningit semalam, 15 Mei 2009.

Dari simbol metafisis yang berhasil ditangkap radar politik19, sejauh ini sosok Pak Boediono cukup sesuai dengan istilah Noyogenggong yang berarti Noyo=Jujur adil dan genggong=menggenjot.

Dalam tulisan sebelumnya, politik19 sepakat memaknai kata ‘genggong’ sebagai menggenjot perolehan suara SBY. Namun kini, terbuka makna lain yang juga masuk akal yakni menggenjot perekonomian atau performance ekonomi.

Dalam wawancara pertama beliau dengan presenter TVOne, Tina Talisa, Pak Boed bersedia jadi cawapres SBY karena rupanya SBY berhasil meyakinkan beliau bahwa beliau tidak akan diperlakukan sebagai sekedar ban serep. Gagasan dan inisiatif pak Boed selalu akan direspon secara substantif oleh Pak SBY, seperti terbukti dalam sejarah hubungan kedua tokoh.

Pak Boed ini, mungkin sedikit yang tau, orangnya sangat sederhana. Kemana-mana beliau tidak mau dikawal. Ke pasar bersama sang istri juga disetir sendiri. Sangat inspiratif.

Menurut sang istri pula, Pak Boed itu paling menikmati untuk pekerjaan mengajar. Seminggu sekali, setiap Sabtu, beliau masih menyempatkan diri untuk  memberi kuliah di UGM. Karena itulah mungkin beliau pernah menolak ketika ditawari masuk Kabinet resuffle SBY pada tahun 2005. Beliau lebih memilih mengajar daripada harus berada di dalam kabinet. (Sebaliknya banyak orang berambisi ingin masuk kabinet).

Namun setelah bertemu SBY, pak Boed akhirnya memutuskan untuk kembali masuk lingkaran kekuasaan dan mendharmabaktikan ilmunya di pemerintahan. Beliau lulus dari Universitas prestisious Wharton pada tahun 1979. Universitas ini juga almamater dari banyak tokoh dunia, seperti John Sculley, Former CEO Apple Computer, Inc., Harold W. McGraw III, Chairman, President and CEO McGraw-Hill, Inc, atau Donald J. Trump, Chairman, President and CEO Trump Hotel/Casino Resorts. Oya ada satu lagi, Michael J. Moritz, Partner Sequoia Capital investor Google.

Di Universitas ini nama Boediono masuk dalam jajaran Top Graduated karena termasuk dalam tokoh yang memberi ‘pengaruh’ kepada dunia. Dan prestasi ini dihasilkan oleh orang yang low profile dan tidak banyak  bicara.

Selamat menggenjot pak Boed :)

Empat hari menjelang deklarasi Capres-Cawapres partai Demokrat, nama Boediono memperoleh momentum lebih besar karena berita kedekatan PD dan PDIP. Pak Boed dianggap sebagai jembatan penghubung antara PD dan PDIP, demikian menurut pendapat pengamat politik LIPI Syamsudin Haris.

Apakah ini berarti Pak Boed akan dicawapreskan oleh partai Demokrat ? Menurut pendapat kami, belum tentu. Hal-hal ini harus dijawab terlebih dahulu:

1. Apakah Partai Demokrat akan mengambil resiko kemungkinan timbulnya perpecahan partai-partai pendukung koalisi akibat masuknya PDIP yang seolah diistimewakan ? Kami kira tidak.

2. Kalau jumlah kursi DPR-RI yang diperoleh koalisi partai Demokrat telah mencapai 56,07%, apakah sangat perlu tambahan kursi dengan masuknya PDIP ? Kami kira juga tidak.

3. Apakah SBY akan mengambil resiko tidak perlu dengan “mengganggu” integritas BI yang telah mantab dipimpin tokoh sekaliber Pak Boed, setelah krisis kepemimpinan BI kemarin yang ditolak DPR ? Kami yakin jawabnya juga tidak.

Kami menduga PD mendekat ke PDIP murni hanya untuk mencairkan hubungan Pak SBY dan Ibu Mega, mengingat dengan Pak Kalla sudah mencair terlebh dahulu.

Mengenai Ibu Sri Mulyani. (added by Uniqueopini):

Pak SBY telah mengatakan bahwa akan mengambil tokoh yang tidak membuat perpecahan di tubuh koalisi. Karena itu calon dari profesional yang kemudian menguat. Tinggal diurut kacang mana yang terbaik.

Mengenai Pak Boed (added by Uniqueopini):

Pak SBY tidak mungkin mengambil tokoh Golkar atau yang didukung Golkar, selain pak Kalla jika hal itu menimbulkan komplikasi politik di tubuh Golkar. Hal yang sama logikanya bisa diterapkan pada PDIP. Apakah internal PDIP bisa menerima diwakili pak Boed ? Dan apakah pak Boed-nya yang bereputasi netral mau menjadi simbol keterwakilan PDIP ?

_________________________________________________________

Catatan Politik19.wordpress.com:

Setelah hasil Pemilu Legislatif resmi diumumkan KPU yang menempatkan PKS di peringkat 4 besar dengan 7,88% suara atau setara, berarti suara PKS secara riil naik sekitar 0,5% dibandingkan pemilu 2004. Karena itu politik19 menurunkan tulisan ini sebagai koreksi atas tulisan kami sebelumnya.

_________________________________________________________

Penulis: Nduzel

Trend kenaikan suara PKS mulai mendatar. Apakah hal ini tanda-tanda kejenuhan/saturasi atau strategi PKS yang tidak tepat kali ini ? Ataukah ada faktor lain ?

PKS:

Pemilu 1999=2%

Pemilu 2004=7,34% (naik diatas 5%)

Pemilu 2009=7,88% (naik hanya 0,5%)

Target munas PKS yang diinginkan untuk pemilu 2009 ini sebenarnya adalah 20% atau berdiri sejajar dengan partai-partai besar lainnya seperti Golkar, PDI-P, ataupun Demokrat.

Jika bercermin pada partai demokrat yang mampu mempertahankan tingkat kenaikan 0% di pemilu 1999, 7,8% pada pemilu 2004 dan 20,85% pada pemilu 2009, maka kita bisa memperoleh sedikit gambaran apa yang ada di partai demokrat namun tidak ada di PKS.

Apakah kelebihan partai Demokrat yang utama ? Figur/Tokoh berkelas nasional yang dimarketingkan dengan baik. Partai Demokrat telah sampai pada hitungan ini jauh-jauh hari.

Kemenangan Demokrat banyak sekali ditentukan oleh figur SBY. Meskipun banyak caleg Demokrat masih berupa tanda tanya buat publik, namun leadership SBY -lah terutama yang mampu mengkatrol mereka.

Iklan yang direncanakan dengan sangat hati-hati memfokuskan partai demokrat pada upaya tidak ofensif terhadap partai lain, namun lebih kepada highlight obyektif terhadap pencapaian prestasi.

Faktanya adalah bahwa ketiadaan tokoh yang kuat justru akan membuat bleeding terhadap potensi kenaikan suara PKS, karena pada saat bersamaan swing voter malah tersedot ke arah tokoh kuat partai lain.

Trend Positif dari jumlah kursi. (Uniqueopini added)

Keberhasilan PKS bisa dilihat dari jumlah kursi DPR yang diperoleh. Jika dibandingkan pemilu 2004, maka ada kenaikan hampir 2,5% jika dilihat dari perolehan kursi di DPR-RI. Hal ini menunjukkan bahwa PKS lebih  berhasil mengembangkan network secara lebih merata di seluruh pelosok Nusantara, dibandingkan dengan kemampuan menjaring swing voter.

_______________________________________________________
Partai Demokrat kebanjiran order. PKS resmi mengajukan Hidayat Nur Wahid dan Tifatul Sembiring, PAN juga telah mengajukan Hatta Rajasa dan Soetrisno Bachir. Ada juga Golkar yang telah mengajukan Jusuf Kalla. Kami dengar ada 19 nama yang telah beredar yang mungkin nama tersebut telah lama beredar di masyarakat.Namun memang tak mudah memilih nama yang acceptable di mata masyarakat sekaligus juga di mata parpol. Kalau salah satu nama terpilih dari parpol tertentu, parpol lain akan “ngambek”. Ini telah terjadi ketika JK maju, PKS kontan bereaksi negatif. Jabatan akan menggoda siapa saja dan membolak-balik arah politik.

Kalau lah akhirnya terpilih satu nama untuk mendampingi SBY, maka siapapun dia, pastilah nama tersebut adalah nama terbaik dari sekian nama yang tampil karena proses berliku yang dilaluinya turut menguji dan membuka mata publik terhadap “isi” dari nama yang muncul, bukan sekedar “kulit”nya. Proses membandingkan dan exposure akan terjadi dengan sendirinya.

Kami jadi teringat proses pemilihan Gubernur BI yang berliku yang akhirnya menghasilkan nama Boediono sebagai nama yang dengan mudahnya melalui jalan terjal yang sama yang dilalui Agoes Martowardojo. Kami yakin sejarah akan berulang.

Singkatnya, setelah melalui proses berliku, tarik ulur, jaim GR, dan ngambek politik. Maka Noyogenggong akan tampil ke permukaan menggantikan posisi Sabdo Palon, dan dengan cepat akan diterima hati rakyat.

1. Secara “moral” politik, nama tersebut tak bercacat atau paling sedikit cacatnya. Tidak ada insiden menjadi tersangka korupsi atau pernah di SP3.

2.  nama tersebut adalah nama terbaik di levelnya. Kalau diandaikan seperti sebuah kelas di suatu sekolah bernama Indonesia, maka ia adalah seorang bintang pelajar. Rapot dan Nilai UAN-nya adalah yang tertinggi. Dengan kata lain, kapabilitasmya dan track recordnya adalah yang terbaik di antara seluruh nama yang telah tercatat sejarah pernah “membantu” kepala negara/kepala pemerintahan.

3. nama tersebut adalah nama yang acceptable di mata parpol yang terlibat koalisi. Artinya orang tersebut BUKAN dari parpol manapun. Beliau steril dari resiko dikenal “dekat” dengan suatu parpol tertentu.

Kami sampai pada kesimpulan ini setelah Anas Urbaningrum menyatakan PKS dan Golkar pernah punya “dosa” politik dengan pernah sama-sama mengajukan interpelasi terhadap presiden padahal menteri dari parpol tersebut juga tengah menjabat di pemerintahan. Maka kalau 2 parpol tidak bisa rukun, bagaimana akan bekerja dengan solid ?

Kalau ditanya orang, siapakah Menteri terbaik ? Boediono jelas jawabnya, terbukti beliau “naik pangkat” memimpin lembaga tinggi negara strategis. Sementara ada menteri yang pindah posisi namun selevel, bahkan ada yang “keluar” dari kabinet.

Setelah Boediono kecil kemungkinan bisa diutak-atik, maka nama Sri Mulyani yang tampil sebagai kandidat. Beliau, meskipun wanita, mampu bersikap tegas, profesional, dan bertangan dingin. Memiliki reputasi internasional yang baik (beliau oleh Forbes dinobatkan sebagai wanita paling berpengaruh di tingkat dunia pada urutan 23! Melampaui Hillary Clinton, Oprah Winfrey, Aung San Su Kyi, maupun Presiden Philipina Gloria Arroyo), dan hormat pada atasannya (tidak pernah kurang ajar, mengkritik atasan di hadapan publik).

Nama Sri Mulyani oleh internal PKS diungkapkan. pada april 2009.

Artinya beliau ada kans bisa diterima oleh PKS. Masalahnya, Ibu Sri Mulyani agak kurang mesra dengan Aburizal Bakrie dari internal Golkar. Karena itu adegan “penolakan halus” oleh partai demokrat terhadap JK mungkin menunjukkan sinyal bahwa SBY sedang membuka peluang yang sama terhadap semua pihak untuk berkembang di bursa politik. Tak terkecuali terhadap orang yang kurang disukai tokoh kuat Golkar.

Prestasi Ibu Sri Mulyani menurut Forbes:

1. Menteri Keuangan Terbaik se-ASIA. Menteri Keuangan terbaik sedunia tidak ada karena pemilihan didasarkan pada faktor geoekonomi yang memang berbeda-beda.

2.  Pertumbuhan positif ekonomi Indonesia. Sementara negara sekawasan mengalami pertumbuhan negatif. Indonesia masih menikmati pertumbuhan positif 4.5% dengan 12 provinsi mengalami pertumbuhan diatas rata-rata dan tiga provinsi tumbuh setara dengan pertumbuhan ekonomi China yakni sebesar 8.5%. (Riau, Kalsel, dan Kalteng)

___________________________________________

Bung Muhammad Shofwan drop comment di “Suara PKS Turun” sbb:

Ternyata ramalan anda salah. Makanya jangan mendahului Allah dan berlagak jadi tukang ramal. Meramal itu haram bung. Meskipun saya sendiri bukan simpatisan PKS dan saya anti demokrasi apalagi partai. Asal tahu saja jumlah golput meningkat pada pemilu tahun ini. Alhamdulillah, Allah telah meridhoi gerakan kami untuk tidak berdemokrasi.

_______________

Nduzel respond :

1. Dengan drop comment berarti anda sudah melaksanakan Demokrasi, selamat :) (bebas berpendapat dan bertanggung jawab)

Nampaknya anda bukan anti demokrasi beneran, anda mungkin cuma sekedar  alergi dengan pelaku partai saja.

Kami melihat itu normal-normal saja (alergi partai). Namun di pemilu 2009 ini ada perubahan penting sebenarnya, yakni yang masuk DPR bukan lagi berdasar no urut namun berdasar suara terbanyak.

Karena itulah, mungkin, mengapa ada tokoh pimpinan partai yang penting malah kalah suara oleh seorang artis komedi. Kalau tau begitu, biar artisnya aja yang jadi pemimpin partai, bukan ? Biar lucu.

Salah satu ide kedepan untuk terus memperbaiki kualitas caleg sebenarnya adalah adanya kewajiban buat anggota legislatif untuk membuka kantor pelayanan wakil rakyat di daerahnya yang benar-benar bisa menjadi tumpuan rakyat untuk mengadu. Tidak seperti sekarang, caleg dipilih di daerah, namun rakyat di daerah tsb tidak punya akses SAMA SEKALI terhadap caleg yang dipilihnya. Minimal si anggota DPR harus punya no HP SMS center 24 jam seperti pak SBY.

Kalau ini bisa diberlakukan, menjadi anggota DPR harus bener-bener siap untuk diganggu 24 jam selama 5 tahun. Mirip dokter jaga. :) Mungkin ini jadi nggak menarik lagi untuk jadi caleg buat mereka yang tidak siap. Saat ini, kursi DPR memang seperti sofa: Empuk. (Asal nggak korupsi aja), masih dapat gaji luar biasa untuk kerja yang ringan luar biasa pula. Lihat saja sering kosongnya ruang sidang, kunjungan kerja wisata ke luar negeri, dll. Meski ada pula anggota DPR yang bagus. Namun masih sedikit rakyat yang tau, dibanding yang tidak.

2. Ramalan kami salah ? Lho siapa yang meramal bung.  Anda baca sekali lagi tulisan kami, ok ? Kami berbicara mengenai “HASIL SURVEY” bukan ramalan.

Survey mirip test golongan darah. Tidak perlu seluruh darah disedot dijadikan ujicoba. Cukup seujung jari. Kalau ramalan, belum ambil darah, tiba-tiba bisa  menyatakan golongan darahnya A, atau B, atau O. Saya setuju ramalan haram, karena sifat spekulatifnya.

Kami bertiga memutuskan belum akan melakukan update terhadap tulisan kami sampai hasil resmi KPU diketok. Kalau suara PKS masih ada di kisaran 4.3%+2.3%(margin error)=7.2% berarti tulisan kami masih valid. Kalau suara PKS diatas 7.2% berarti SRI metode surveynya perlu diperbaiki dan  pendapat/tulisan tentu akan kami ralat.

Kalau anda menganggap hasil survey salah, berarti anda mempercayai hasil quick count-lah yang benar.

Jangan lupa, Quick Count sama persis dengan SURVEY. Nah, kalau hasil survey anda anggap ramalan, Itu artinya anda mempercayai ramalan karena anda mempercayai hasil quick count. (duh, ada gema: Meramal itu haram bung, memang mudah menghukumi orang lain ya ?)

3. Berlagak jadi tukang ramal ? Ampun deh, offensif lagi, kami cuma menulis hipotesa keterkaitan ramalan Jayabaya dengan fakta politik kontemporer karena ini menarik buat kami. That’s all. Harap dibedakan kalau anda punya waktu.

Coba anda baca tulisan kami tentang satria piningit. Jangan2 Jayabaya bukan peramal, justru scientis. (Ini hipotesa lagi bung).

3. “Asal tahu saja jumlah golput meningkat pada pemilu tahun ini. Alhamdulillah, Allah telah meridhoi gerakan kami untuk tidak berdemokrasi.”

Data golput anda dari mana ? Kalau Hasil survey juga, sabar dulu bung. Tunggu report resmi KPU. Allah telah meridhoi ? Bagaimana anda bisa mendasarkan pendapat anda pada hasil survey yang belum fix, kemudian anda mendahului Allah, memastikan Allah telah meridhoi ?

Hal lainnya, bagaimana anda bisa yakin karena gerakan anda-lah golput meningkat ? Dan bukan karena faktor lain ? Karena kerja KPU yang tidak sempurna misalnya ? Atau karena partai memang tidak menarik lagi bagi pemilih karena seperti milih kucing dalam karung? Tapi anda benar satu hal: Alhamdulillah.

4. Thanks untuk comment anda. Blog anda tentang gerakan anda dimana ? Atau anda belum buat / tidak akan membuat blog ?

_________________________________________________________

Sebelum pemilu legislatif digelar, survey dari SRI menunjukkan adanya penurunan suara PKS. Kalau tahun 2004 mencapai 7,34%, maka survey menunjukkan penurunan sedikit menjadi 6,3% pada Oktober 2008. Dan disurvey terakhir Minggu tanggal 5 April 2009 menurun lagi menjadi 4.9% (dgn kemungkinan error naik turun sebesar 2,3%). Trend ini tidak akan terlalu berarti jelek bagi PKS karena pada pemilu 99, PKS hanya mengumpulkan suara dibawah 2%, sedangkan usia PKS masih cukup muda.

Namun sebaliknya ini kabar buruk bagi Tifatul Sembiring dan Anis Matta, ketua dan sekjen PKS, karena target Munas yang diinginkan sebenarnya adalah 20% atau sejajar dengan partai-partai besar lainnya seperti Golkar, PDI-P, ataupun Demokrat. Berarti kepemimpinan ini akan dianggap gagal. Mungkin akan sulit akan terpilih kembali. (Meskipun juga itu tidak terlalu menjadi masalah bagi PKS secara internal karena PKS adalah partai kader yang tidak harus identik dengan Figur / Tokoh)

Namun secara eksternal, ini menunjukkan sinyal kepada publik kekurangan strategi PKS. Apakah kekurangan PKS yang utama ? Figur/Tokoh berkelas nasional yang dimarketingkan dengan baik. Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, Anis Matta, dll kurang cukup diasosiasikan dengan kata “Leadership” sehingga meskipun kader PKS yang menjadi caleg sangat kompak, namun tanpa kejelasan kepemimpinan dan karya yang menonjol di tingkat nasional, akan banyak berpengaruh terhadap perolehan suara partai. Mengapa ? Karena Partai lain telah sampai pada hipotesa ini jauh-jauh hari.

Kemenangan Demokrat banyak sekali ditentukan oleh figur SBY. Meskipun banyak caleg Demokrat masih berupa tanda tanya buat publik, namun leadership SBY -lah terutama yang mampu mengkatrol mereka. Langkah yang cerdik dari Demokrat (atau cuma kebetulan saja). Survey terakhir menunjukkan keunggulan s/d 24% bagi partai demokrat. (Jika yang disurvey pada datang semua ke bilik suara).

Iklan PKS yang menonjolkan tokoh non PKS pada iklan kontroversial beberapa waktu yang lalu, turut menegaskan image partai yang berspektrum terlalu luas tanpa differensiasi yang jelas yang akan mampu menusuk benak publik. PKS malah terlihat sebagai partai yang tidak percaya kemampuan kadernya (meskipun akhirnya ada iklan yang menonjolkan Anton Apriantono, namun mungkin masih kalah level dengan SBY maupun JK, dan mungkin sudah terlambat). Padahal mungkin tujuan iklan tersebut adalah menghapus kesan Islam-Centric menuju Islam-Nasionalis, namun tangkapan publik jauh panggang dari api.

Kedua, tentang iklan PKS yang menyatakan bahwa PKS -lah satu-satunya Partai yang mengembalikan uang korupsi sebesar sekian milyar. Kami melihat ini blunder, karena berarti PKS mengakui melakukan korupsi. Pemilih baru akan hesitated / ragu dengan fakta ini.

Kami meyakini, PKS sebenarnya telah memasang sensor indikator untuk memonitor faktor tokoh atau figur ini. Tapi mungkin mereka cukup puas “menerima” kenyataan bahwa ternyata tidak ada satupun tokoh PKS yang cukup kuat mengkatrol suara partai. Dan mungkin yang malah tidak diduga PKS adalah kenyataan bahwa ketiadaan tokoh yang kuat justru akan membuat bleeding terhadap suara PKS, karena pada saat bersamaan swing voter tersedot ke arah tokoh kuat partai lain.

Mungkin inilah dilema partai kader yang kuat. Sangking kuatnya kader, sampai-sampai figur tokoh ‘tenggelam’ oleh imaji para kadernya yang solid. Hal ini mirip dengan kekuatan massa NU sewaktu dipegang Idham Chalid, sebelum akhirnya muncul pendekar dari Jombang: Gus Dur yang merubah peta pengkaderan NU, dengan cara berani mengambil resiko ‘keluar’ dari fatsun politik NU dengan mendirikan FORDEM, Petisi50, dll (sebagai langkah responsif isue-isue kebangsaan diluar urusan ke-NU-an).

Sebagai Partai berbasis kader, PKS telah menunjukkan bukti yang positif. Lihatlah setiap contest SMS, kebanyakan PKS unggul menunjukkan network PKS yang kuat yang terjalin baik dan tidak ketinggalan jaman. Tinggal bagaimana kader-kader ini menembak sasaran yang tepat dan dengan cara yang tepat di level kebangsaan karena ada inspirator visioner di depan yang memimpin jalan. (Buat apa cuma menang contest SMS ? )

Mungkinkah ini jalan kemunculan Satrio Lelono Topo Ngrame (Igo Ilham) ?

________________________________________________
Bung Heri drop comment sbb:

Satria Piningit adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X…bukan SBY…
Sosok Pemimpin adalah seorang Pemimpin yg sdh jelas terbukti mampu memimpin meski itu baru di propinsi. Keberhasilan DIY sewaktu dipimpin Sri Sultan X sangat banyak
1. Rangking 1 untuk kota/daerah yang tingkat korupsinya paling kecil (mendapt nilai tertinggi).
2. Kota yang relatif aman & damai tidak pernah timbul gejolak/kerusuhan.
3. Tampil di depan rakyat pada waktu demo besar-besaran menjelang jatuhnya mantan Presiden RI Soeharto th 1998. Bahkan dia mampu meredam aksi massa agar tdk anarkis, waktu itu rakyat Yogya hampir 1 (satu) juta orang turun ke jalan untuk berdemo menuntut turunnya Soeharto.

Sangat disayangkan apabila sampai dg sekarang, sebagian rakyat masih menginginkan tampilnya kembali SBY :
1. saya merasa kasihan dg korban LAPINDO, jelas2 SBY orang Jawa Timur, tpi dalam penanganan Lumpur Lapindo SANGAT-SANGAT TIDAK TEGAS!!!!…Apakah itu ciri seorang pemimpin ?? apakah itu ciri seorang Jenderal ??? Sampai sekrang korban Lapindo masih diombang-ambingkan hak-haknya…bagaimana seorang pemimpin dapat dipilih..bila dlm kasus Lapindo sja dia tdk bisa menangani.
2. SBY bagian dari ORBA..ingat sampai skrg tidak ada harta secuilpun dari keluarga Cendana yg bisa disita untuk aset negara,pdhl amanat dlm TAP MPR 1998 untuk mengusut Soeharto & kroninya disebutkan..Klo harta keluarga Cendana bisa disita mgkn bisa untuk mengatasi dampak krisis negara kita…tp sayang kita dipimpin seorang yang lemah, tidak tegas,cenderung gamang dlm memimpin suatu negara. Pdhl sbg seorang pemimpin shrusnya dia bs bersikap tegas, tp krn dia adalah bagian dari itu, sehingga ketegasan dia TIDAK ADA.

nduzel responded:
“Sangat disayangkan apabila sampai dg sekarang, sebagian rakyat masih menginginkan tampilnya kembali SBY”
Lha yaitu :) , itulah faktanya….pooling terakhir maret 2009 oleh LSI, SRI, LP3ES, CSIS, LIPI, dan UI, Partai Demokrat (SBY) masih yang paling diminati rakyat. Kalau dihadapkan Megawati, masih unggul s/d 64%. Terlebih jika dihadapkan Sri Sultan, SBY unggul s/d 71%.
1. tentang Lapindo, ini memang kecelakaan luar biasa. 1,3 trilyun (1300 milyar) dana penanggulangan hampir habis, namun belum ada juga titik terang. Masih ada demo para korban Lapindo. Kasihan mereka rakyat kecil.
Yang jelas SBY telah berkali-kali memanggil Nirwan Barie untuk mengetahui update terbaru mengenai penanganan para korban Lapindo dan kami dengar kata-kata “memanggil” sebenarnya sudah dihaluskan. Yang tepat adalah “disemprot” hehe, jadi kurang tegas bagaimana… memang Lapindo ini kasus rumit karena melibatkan banyak orang yang masih berpikir “business as usual”. Sama rumitnya dengan penanganan mental birokrasi kita. Tidak ada yang ajaib, semua harus dikerjakan setahap demi setahap.
2. Mengenai bagian dari ORBA: sebenarnya kalau mau jujur, semua orang yang hidup di zaman orba adalah bagian dari orba. Mereka semua bertanggung jawab atas sistem orba yang tidak demokratis dan berbau kerajaan. (kecuali Gusdur hehe, karena beliau mendirikan Fordem).
Dan mengenai ranah hukum, SBY telah bersikap tegas menjelaskan posisinya untuk tidak mencampuri ranah hukum. Yang SBY bisa lakukan adalah berkunjung sebagai kepala negara ke Mahkamah Agung dan memotivasi mereka untuk terus memperbaiki diri dan bebas korupsi, dengan demikian tidak saja masalah harta keluarga Cendana, masalah harta anda pun bukan wilayah SBY.

________________________________________________

Bung Arif drop comment :

wah2 kalo gini SBY jd presiden gi ya bung..kan dia satrio piningit-nya. setahu saya byk orang yg mengaku sbg satria piningit terutama pasca reformasi 98..waktu itu sering dibahas di tabloid BANGKIT. waktu itu saya masih SMP mungkin. munculnya satrio piningit kan didahului ‘goro-goro’ yg besar..istilahnya orang jawa tnggl separuh orang cina tinggal sepasang. apa reform 98 dengan segala ‘pernak-perniknya’ udh jadi goro2 spt yg dimaksud jayabaya, raja dari kediri itu. trus kalo kondisi negara jadi lebih baik setelah dlm rezim satrio piningit, apa rezim SBY udah melakukan itu? misalnya ttg kemiskinan, pengangguran, masalah perbatasan, HAM, dll. apa ada perbaikan yg nyata? misalnya angka pertumbuhan ekonomi kita dlm rezim SBY memang sempat mencapai kisaran 6%..namun pertumbuhan itu tidak pada sektor riil..cuma ada di pasar modal. mau dikatakan ga ada pertumbuhan juga dilematis.

jadi pengen ngerti ampuh mana jayabaya sama mama lorenz, coz dia bilang bahwa indonesia akan dipimpin oleh presiden baru. sedang SBY kan incumbent.hehe.

Respon kami:

Kami dulu juga pernah baca tabloid (namanya Bangkit ya? uda lupa). Kayaknya kita harus sedikit hati-hati untuk tidak terprovokasi tabloid. Maklum mereka kan sedang “jualan” :)
1. SBY terpilih lagi ? Kalau “bacaan” kami benar, berarti Iya, kalau kami salah, berarti kami keliru baca hehe. Mama Lorent setau kami (kami liat sendiri di TV) meramalkan SBY terpilih lagi, dia bilang sambil tersenyum orangnya tinggi besar, dan orang udah lama kita kenal. Kami artikan incumbent. Kalau anda nonton Extravaganza, yang bilang Presiden baru tu si Ronald (pembawa acaranya). Mama Lorent bilang akan terpilih seorang presiden. Titik. Banyak ramalan Mama Lorent yang dipelintir begitu sampai di masyarakat/internet, mungkin kita harus menyaksikan langsung, agar tau konteksnya. Ada di Youtube kalo mau repot cari-cari.
2..”istilahnya orang jawa tinggl separuh orang cina tinggal sepasang”
ini kalau dalam pandangan kami, harus dilihat bersama dengan kalimat serat Jayabaya lainnya, yakni, “Satria Piningit membelah tanah Jawa untuk yang kedua kalinya”. Yang menurut kami artinya adalah “membelah jadi dua kelompok: orang benar dan orang tidak benar. Bukan artinya orang Jawa tinggal separuh dalam jumlah. Begitu juga orang Cina. Istilahnya tinggal sedikit sekali yang baik yang bertahan di Indonesia, yang “bermasalah” pada kabur ke Luar negeri atau ngumpet.
3. Kalau mengenai “perbaikan” tidak fair rasanya kalau kita yang menilai. Coba anda baca di sini tentang penanganan tsunami , dan tentang SBY sebagai pemimpin yang memperoleh penilaian positif dari pemimpin dunia yang lain, atau terakhir tentang Indonesia yang dinilai sebagai negara yang secara mengejutkan mampu tampil kuat dan paling sukses di Asia, tentang apa penilaian jurnalis luar negeri tentang Satria kita ini. Jangan lupa, penilaian ini dilakukan saat Satria pemimpin, jadi tidak lengkap juga rasanya kalau tidak menunggu setelah selesai menjabat.

_________________________________________________

Dalam wawancara beliau dengan wartawan (8 Maret 2009), meskipun Golkar belum memastikan kemenangan pemilu legislatif, Jusuf Kalla (JK) akhirnya memastikan untuk maju sebagai calon Presiden dari partai Golkar.

Alasan JK adalah dengan melihat karier politik beliau yang mulai dari bawah, maka adalah wajar atau merupakan konsekuensi logis jika setelah Wapres maka JK melihat posisi Presiden sebagai tahapan berikutnya dari karier politik beliau. Bukan karena ambisi politik atau ketidakpuasan dlsbgnya, melainkan murni sebagai langkah berikut dari sebuah tahapan. (Nice move)

Yang hendak kami (politik19) soroti adalah sudut pandang ramalan Jayabaya (Joyoboyo):

1. Dalam serat Jayabaya disebutkan bahwa sewaktu Satria Piningit memimpin Nusantara, Sang Satria akan didampingi 2 orang tokoh unik yang menempati posisi sejarah tersendiri dalam perjalanan Nusantara.

Kutipan Serat Jayabaya bagian akhir:

didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong

Dua tokoh tersebut adalah Sabdo Palon dan Noyogenggong. Kami meyakini, Sabdo Palon ini adalah Jusuf Kalla. Mengapa? Karena Sabdo Palon bermakna “Sabhad” = penasehat raja dan “payon” = berasal dari bawah. Sewaktu JK diangkat jadi Wapres, beliau belumlah menjadi Ketua Umum Golkar.

Strategi JK dalam pemilu capres nampaknya adalah dengan mengangkat tema “Bersama kita bisa adalah baik, namun lebih cepat adalah lebih baik”. Strategi lainnya adalah dengan menampilkan image Islami dengan banyak mengatakan istilah-istilah agama dalam setiap kesempatan bertemu publik. Mungkin ini ditujukan untuk merangkul suara mengambang partai Hijau atau Hijau-Nasionalis yang tidak punya figur cukup kuat untuk maju sebagai presiden (PKS/PKB/PPP).

2. Informasi berikutnya dari serat Jayabaya mengenai Sabdo Palon adalah, bahwa beliau akan memperoleh “malu”. Tidak dijelaskan dalam serat Jayabaya mengenai mengapa Sabdo Palon memperoleh malu. Namun kuat dugaan kami, bahwa JK akan gagal dalam pemilu presiden dan karena itu ia “malu”. Mungkin malu terhadap sang Satria Piningit, mungkin malu terhadap basis pendukungnya. Kami tidak mengetahui dengan pasti. (namun nantinya, “kader” Sabdo Palon ini (ramal Jayabaya) akan menjadi Satria ketujuh (Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu)).

Hasil survei terakhir (maret 2009( dari SRI (bukan LSI) menunjukkan popularitas JK masih berada di kisaran 5% atau sama dengan popularitas Prabowo. Sedangkan SBY ada di atas 20%.

_____________________________________________

3. Hal menarik lainnya adalah siapakah Noyogenggong ? SBY pernah mengatakan dalam wawancara dengan wartawan setelah JK mendeklarasikan maju sebagai Capres Golkar bahwa jika JK jadi maju, maka bagaimanakah kriteria cawapres pengganti JK ? Beliau menyebutkan 3 kriteria umum yang tidak mengarah secara khusus kepada siapapun: Integritas, Capabilitas, dan Chemistry.

Dalam bahasa Jawi Kuno (sankrit) “noyo” berarti “adil/fair/jujur” dan “genggong” berarti “menggenjot”. Jadi siapapun cawapres SBY nantinya, kami perkirakan adalah tokoh yang mampu menggenjot perolehan suara SBY. (Berbeda 180 derajat dengan figur JK yang tidak terlalu menentukan perolehan suara SBY)

Hal ini nampaknya akan tepat sekali menggambarkan posisi SBY saat ini. Kalau dahulu sebelum JK maju, konsentrasi pemilih hanya terfokus kepada 2 Figur, yakni SBY dan Mega. Maka sekarang ada kandidat ketiga tak terduga yakni JK, yang cukup “menohok” kekuatan SBY dalam kompetisinya dengan Mega.

Dua kemungkinan bisa terjadi:

1. jika Partai Demokrat menang pemilu (1) (2), maka posisi wapres bisa diisi orang partai demokrat sendiri, karena partai pendukung koalisi akan mungkin ditempatkan diposisi menko dan menteri (agar fair/adil). Maka bisa terjadi Anas Urbaningrum atau Andy Malaranggeng yang maju sebagai Wapres.

UPDATE 3 APRIL 2009:

Atau bisa juga terjadi SBY akan memilih wapres yang sama sekali tidak terkait perpartaian (karena DPR telah termanage), dan seiring efek “menggenjot” maka figur ini bisa-bisa munculnya mengejutkan banyak orang namun sangat didukung rakyat.

2. jika Partai Demokrat tidak menang pemilu, maka kemungkinan besar wapresnya akan berasal dari lintas partai. Bisa dari PKS, PKB, atau dari PAN/PPP.

partyposition

Posisi suara partai Oktober 2008

PD + PKS + PKB = 24,1%. Cukup tipis untuk memenangkan pemilu presiden. Siapakah Noyogenggong ? Dari PKS ? Ada Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, Anton Apriantono, dan Adyaksa Dault. Dari PKB? Ada Muhaimin Iskandar dan Lukman Edy.

Namun dugaan kami mengarah kepada ia adalah tokoh PDIP atau Golkar yang bisa diterima oleh PKS dan PKB. Jika ada tokoh PDIP atau Golkar yang tidak segaris dengan pimpinan partainya, bergerak mendekati PKS atau PKB, kemungkinan besar dialah orangnya. Ramuan ini akan cukup mujarab untuk menggenjot suara SBY. Jika dan hanya jika Partai Demokrat kalah dalam pemilu legislatif.

Siapakah dia ? Setidaknya ada Fadel Muhammad dari Golkar yang bersebrangan dengan JK. Sedangkan Sultan sekarang cenderung netral. Dan dari PDI-P tidak ditemui tokoh yang cukup menonjol selain yang telah mendirikan partai baru seperti Roy BB Janis atau Laksamana Sukardi.

Kalau SBY berduet dengan Fadel, maka akan seperti duet Clinton-Al Gore. Perfect combination. Fadel kompatibel dengan JK yang juga pengusaha sukses berpengalaman, berprestasi sangat baik di Gorontalo, dan penampilannya menarik (seperti Al Gore).

Update 24 Maret 2009:

Satu lagi kemungkinan pendekatan terhadap “mampu menggenjot perolehan suara” adalah dengan berpikir “out of the box” tanpa memikirkan konstelasi politik perpartaian kita, namun mencoba berpikir dalam kerangka lebih besar. Misalnya:

Kalau SBY dilahirkan di Pacitan, maka bisa terjadi Wapresnya berasal dari luar Jawa. Nama yang masuk kategori ini adalah Fadel Muhammad (Ternate), Andy Malaranggeng (Makassar), dan Sri Mulyani Indrawati (Tanjung Karang Lampung)

Kalau berpikir Pria-Wanita, maka cuma Sri Mulyani yang masuk.

UPDATE 3 APRIL 2009:

Tambahan untuk jika Partai Demokrat menang pemilu:

Atau bisa juga terjadi SBY akan memilih wapres yang sama sekali tidak terkait perpartaian (karena DPR telah termanage), dan seiring efek “menggenjot” maka figur ini bisa-bisa munculnya mengejutkan banyak orang namun sangat didukung rakyat.

Mari berpikir kreatif tanpa sekat-sekat logika:

1. Dinno Patti Jalal=seorang diplomat karir yang cemerlang dan loyal terhadap Republik Indonesia. Beliau turut mendirikan modernisator.org yang diharapkan menjadi katalis perubahan bagi generasi muda Indonesia (Sumpah Pemuda 2).

2. Barnabas Suebu=Gubernur Irian Barat saat ini. Sarjana hukum yang usianya sebenarnya lebih muda daripada Pak Jusuf Kalla. Kalau jadi wapres akan mengejutkan dan kami yakin punya efek positif terhadap Nusantara. Pertama karena beliau orang yang cerdas, diplomat ulung, dan seorang pekerja keras. Kedua karena issue Indonesia Timur yang tertinggal akan memperoleh momentum perubahan drastis menuju arah positif.

Halaman Berikutnya »