Soeharto sebagai pribadi adalah pribadi yang hangat dan sering tersenyum.

Beliau adalah presiden kita yang di mata pemimpin seangkatannya merupakan

pribadi yang dihormati dan punya hubungan pribadi yang baik.

Ketika beliau sakit di penghujung usianya, tak kurang Lew Kwan Yue dan

Mahatir Muhammad datang membesuk, meskipun beliau tidak lagi berkuasa.

Memyambut mereka berdua, pak Harto hanya mampu tersenyum dan menitik-

kan air mata.

Di penghujung hidupnya, pak Harto memang seperti tersisihkan. Sakit dan

didera isu hukum adalah bagian terakhir dari episode hidup beliau. Beliau

juga terkesan tidak berusaha dengan keras untuk memperbaiki keadaan,

Beliau seperti berharap, waktu yang akan menyembuhkan segalanya.

Setelah wafatnya beliau tahun ini, banyak dari kita yang tersadar bahwa

beliau adalah sosok yang begitu kita kenal, seolah-olah kita masih melihat

kehadiran beliau di televisi di rumah kita. Entah pada saat beliau berpidato,

menerima tamu negara, atau ketika beliau memimpin dialog dengan petani

dan rakyat kecil.

Dialek bicaranya yang khas dan cara berpikir beliau yang sistematis telah

mewarnai keseharian hidup bangsa ini dan mengajarkan kita bagaimana

mengelola hidup dan ekonomi bangsa.

Tidak bisa kita pungkiri bahwasanya di era kepemimpinan beliaulah Indonesia

demikian disegani oleh negara tetangga. Kita seolah teman yang baik bagi

negara sekawasan.

Seperti itu jugalah nampaknya dari awal pak Harto menempatkan diri dalam

hubungan pribadi beliau dengan pemimpin seangkatan. Pribadi yang berwibawa.

Yang menghormati dan dihormati.

Karena itu, terasa kejamlah bangsa ini memperlakukan beliau di kala beliau tidak

lagi sebagai pemimpin kita. Jatuhnya beliau karena tidak mampu lagi menjawab

perubahan zaman, bukan berarti harus di hujat dan di perlakukan tidak semestinya.

Kekurangan beliau -pada akhirnya- adalah kekurangan semua juga. Orang baik

dan berniat baik belum tentu menempuh cara yang terbaik. Pasti ada kegagalan.

Demikianlah jasa beliau seolah terlupakan dan terhapus oleh tuntutan

menyegerakan segala sesuatu dan keharusan-keharusan yang dipaksakan.

Di tahun 1977, ketika kita adalah “negara minyak”, kemakmuran rakyat

dan akselerasi kesejahteraan rakyat di tahun-tahun berikutnya seperti

menjadi mantra keberhasilan pak Harto di mata rakyat dan dunia internasional.

Keterangan Gambar : Sebesar daerah arsiran itulah kemakmuran kita

di masa Pak Harto memimpin.

Windfall dari oil profit inilah yang kemudian dipergunakan untuk mengakse-

lerasi pembangunan di segala bidang. Dengan cerdik pak Harto memprio-

ritaskan sektor pertanian dan pangan menjadi fondasi pembangunan tahap

selanjutnya. Kita menjadi negara yang berhasil dan disegani, pangan murah,

energi murah, politik stabil, dan rakyat mudah mencari penghidupan .

Sekarang di tahun 2008, jauh setelah melalui masa reform, keadaan

nampak mulai membaik dan sinyal-sinyal kebangkitan mulai terdengar

dari segala penjuru dan sektor. Kita nampaknya telah “memaafkan”

semua kesalahan masa lalu, termasuk pak Harto, dan kita mulai

bersiap (untuk) sebuah era keberhasilan bangsa yang baru, yang mungkin

melebihi ekspektasi pak Harto dahulu.

Pak Harto menyayangi rakyat dan tahu betul kesulitan rakyat. Mungkin

karena terlalu sayang itulah, kita jadi anak bangsa yang manja dan

terlalu mudah mencapai sesuatu. Kita mudah terlena dan mengira

semua itu akan berlangsung selamanya. Namun ternyata tidak,

diperlukan evaluasi setiap waktu.

Jika kita melihat tabel di atas, dapatlah kita menyimpulkan bahwa

trend kemakmuran karena oil factor, sangat dipengaruhi oleh trend

komsumsi energi yang terus meningkat. Kejatuhan pak Harto, salah

satunya, bisa dilihat dari kacamata ini.

Sebenarnya kalau kita bisa menggeser oil factor menjadi energy factor,

mungkin kita bisa mencapai kemakmuran dahulu bahkan melebihinya.

Satu hal bahwa kita negara tropis, energi surya adalah kelebihan kita.

Kalau pemerintah memulai sekarang insentif industri sel surya, sebagai

rencana jangka panjang, kami meyakini, kita tidak akan tersandung untuk

yang kedua. Yakni ketika cadangan gas dan batubara kita juga pasti akan

habis/terpotong kenaikan konsumsi.

Sebelum itu terjadi (meski +/-50 tahun lagi) saya yakin trend konsumsi

energi melampaui produksi energy bisa lebih cepat terjadi. Karena

penduduk kita makin banyak dan industri haus energi (Hi Tech) makin

menjadi trend di depan.

Sebagai Bonus, dengan Energy Strategy yang berbasis keunggulan

komparatif ini, kita memperoleh surplus lingkungan. Mengingat Global

Warming sudah didepan mata kita semua. Yang ini jangan sampai me-

nunggu 50 tahun. Karena setelah 50 tahun, mungkin banyak pulau-pulau

kita yang tenggelam.


  1. Hi my name is Freddy, I’m from Oslo,
    I think Soeharto is a humble man, and the longest President
    ever in Asia..but his govermentz is not fully clean
    Think corrupt Birocradt, your goverment must do it fast
    to get up

  1. 1 Satria-satria di bumi Nusantara « Politik [tidak] harus umum

    [...] Satria Mukti Wibowo Kesandung Kesampar = Pak Harto (TO), satria yang berwibawa dan [...]




Leave a Comment