Sudahkah saatnya pemimpin atau tokoh politik nge-Blog ?

Dengan perkembangan teknologi informasi saat ini yang luar biasa cepat, seorang kandidat atau politisi dituntut untuk “aware” atau awas terhadap serbuan informasi. Jika tidak, sebuah isu kecil yang nampaknya tidak berbahaya, bisa menjadi bencana ketika isu tadi memperoleh momentumnya. Sebagai contoh sudah banyak terjadi seorang kandidat yang nampak sempurna bisa jatuh dalam semalam saja, hanya gara-gara ketidakmampuan meng-counter isu negatif. Anda tentu masih ingat dengan kandidat calon presiden dari Amerika John Edward, pada pemilu sebelumnya sebenarnya ia telah mencoba maju, namun jatuh karena isu perselingkuhan yang akhirnya (terpaksa) diakuinya. Tahun ini John Edward ikut lagi namun gagal (lagi).

Pada tulisan kami sebelumnya, kami telah mendaftar kandidat calon presiden yang muncul untuk pemilu RI tahun 2009. Apakah mereka punya Blog ? Setidaknya mereka terbagi dalam 3 golongan.

Punya Blog Rutin Diupdate

Punya Blog Tidak Rutin di update

Tidak punya Blog

———————–

Seperti layaknya media massa, blog sebenarnya punya kekuatan tersembunyi untuk memperkuat citra kandidat atau bahkan memperlemahnya. Jika anda melihat jumlah hit saja, sebuah personal blog bisa mengumpulkan pelanggan melebihi sebuah media massa yang telah mapan.

Kita contohkan TechCrunch.com, berapakah jumlah pelanggannya melalui RSS feed ?

1.004.000 sindikasi ! Businessweek saja pelanggannya cuma, ratusan ribu.

Dengan ngeblog, seorang tokoh/pemimpin bisa lebih dipercaya oleh masyarakat karena blog sifatnya terbuka, semua orang bisa comment, semua orang bisa baca. Dan kalau rutin diupdate bisa menjadi rujukan situs lain yang makin memperkuat “gema” blog tersebut.

Kadang-kadang kami berpikir jika ada sebuah isu beredar, misalnya tentang masyarakat miskin di suatu daerah, ingin rasanya kami melihat ke blog para pemimpin kami. Sedang apa mereka hari ini ? Apakah mereka sibuk melakukan acara seremonial atau mereka bekerja sungguh untuk rakyat

Tentu akan berbeda menerima informasi dari tangan pertama adalah lebih baik daripada lewat media massa.

Apakah ada resikonya ? Tentu saja, pada sebuah blog kita harus siap dengan beban rutin mengupdate. Jadi membutuhkan daya tahan. Selain itu ada beban “menjawab” jika ada “pertanyaan” (menjadi beban karena politisi umumnya ingin main safe).

Apakah politik kita memuaskan rakyat ? Kita tidak pernah tahu dengan jelas. Yang jelas, ada pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, ada komentar-komentar yang tak sampai, dan banyak gagasan-gagasan bagus yang terlewatkan….

Kami meyakini, inilah saatnya tokoh dan pemimpin politik untuk lebih personal dan berkepribadian, melalui blog, meskipun seminggu sekali baru diupdate, setidaknya rakyat tahu dan tertulis apa saja kegiatan mereka diatas beban biaya rakyatnya !


  1. Benar juga, jadi kita atau rakyat mengetahui jalan pikiran dan programnya.

    UO: Eh ada pak Singal, terimakasih sudah mampir pak.




Leave a Comment