Sebuah pertanyaan menarik jika JK harus memilih, apakah menjadi Calon Presiden Golkar atau maju lagi bersama SBY ? Saat ini, dengan pemilu Parpol yang belum berlangsung, kalkulasi pilihan mana yang akan diambil JK nampaknya masih condong kepada pilihan kedua (maju bersama SBY). Namun seandainya pada waktu pemilu parpol Golkar menang di atas batas ambang 20% kursi DPR atau 25% suara pemilih, maka kami meyakini kecil peluang JK untuk terpaksa tidak maju sebagai capres dari Golkar sendiri. Terdengar ironis memang, jadi capres tapi “terpaksa”. Namun inilah realita menarik yang tengah berkembang dalam demokrasi kita. Desakan internal Golkar sebagai partai akan sulit ditampik oleh JK, kecuali jika JK berhasil membujuk Golkar untuk “berkorban” untuk kepentingan “Nasional” terutama isu kelanjutan pembangunan dan keberhasilan project kelistrikan nasional “MegaWatts” yang dikomandoi JK.

Pilihan JK untuk maju lagi bersama SBY pada pemilu 2009 memang tampak lebih bisa diterima oleh pasar ketimbang oleh internal Golkar. Pasar tentu pro dengan pasangan SBY-JK sebagaimana tampak dari keberhasilannya memimpin  Indonesia dan mengakhiri secara resmi krisis moneter Asia. (Melunasi hutang ke IMF pada tahun 2006)

Pertanyaan berikut yang muncul adalah bagaimana cara JK untuk tetap bisa maju sebagai dwitunggal bersama SBY tanpa mengorbankan leadership-nya di Golkar ? Tokoh-tokoh kuat Golkar saat ini banyak yang mulai menyiapkan sekoci cadangan jika JK tetap maju sebagai pasangan SBY. Sri Sultan akan maju dengan partai sendiri (RepublikaN), Yuddy Chrisnandi, tokoh muda dari Golkar bergabung bersama upaya hukum untuk menggugat UU Presiden yang tidak mengakomodir calon independen. Dan Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad juga sudah dicoret dari calon anggota legislatif dari Golkar, karena dinilai mbalela(o).

Apakah JK akan mungkin membawa Golkar maju mengusulkan ketua partainya sebagai calon WAKIL Presiden alih-alih sebagai calon Presiden ? Jawabnya sulit. Dilematis memang. Jika JK maju lagi sebagai wapres maka sebagai partai, Golkar bisa dilihat oleh publik sebagai partai yang aneh/janggal, sebaliknya jika maju sebagai presiden, JK akan tampak seperti tokoh yang “lupa” kacang akan kulitnya, mengingat naiknya JK sebagai ketua Golkar tak lepas dari posisinya sebagai wapres yang tengah menjabat.

Jika JK terpaksa maju sebagai calon Presiden, maka ada pertanyaan menarik lainnya yang akan muncul, siapakah pendamping SBY nantinya ? Nampaknya figur Fadel Muhammad cukup kompatibel dengan JK jika SBY menginginkan pasangan yang bisa mendampinginya. FM cukup berhasil memimpin Gorontalo, jka tidak bisa dibilang sangat berhasil. Sebagai pengusaha, FM juga termasuk yang bersih dari kasus korupsi. Label sebagai “pengemplang BLBI” dari kasus pailtnya Bank Intan miliknya telah diputus bersih dalam kasasi Mahkamah Agung tahun 2004. Posisi politik FM juga mirip JK dahulu sewaktu Golkar masih dipimpin Akbar Tandjung. Who knows?


Leave a Comment