_________________________________________________________
Sebelum pemilu legislatif digelar, survey dari SRI menunjukkan adanya penurunan suara PKS. Kalau tahun 2004 mencapai 7,34%, maka survey menunjukkan penurunan sedikit menjadi 6,3% pada Oktober 2008. Dan disurvey terakhir Minggu tanggal 5 April 2009 menurun lagi menjadi 4.9% (dgn kemungkinan error naik turun sebesar 2,3%). Trend ini tidak akan terlalu berarti jelek bagi PKS karena pada pemilu 99, PKS hanya mengumpulkan suara dibawah 2%, sedangkan usia PKS masih cukup muda.
Namun sebaliknya ini kabar buruk bagi Tifatul Sembiring dan Anis Matta, ketua dan sekjen PKS, karena target Munas yang diinginkan sebenarnya adalah 20% atau sejajar dengan partai-partai besar lainnya seperti Golkar, PDI-P, ataupun Demokrat. Berarti kepemimpinan ini akan dianggap gagal. Mungkin akan sulit akan terpilih kembali. (Meskipun juga itu tidak terlalu menjadi masalah bagi PKS secara internal karena PKS adalah partai kader yang tidak harus identik dengan Figur / Tokoh)
Namun secara eksternal, ini menunjukkan sinyal kepada publik kekurangan strategi PKS. Apakah kekurangan PKS yang utama ? Figur/Tokoh berkelas nasional yang dimarketingkan dengan baik. Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, Anis Matta, dll kurang cukup diasosiasikan dengan kata “Leadership” sehingga meskipun kader PKS yang menjadi caleg sangat kompak, namun tanpa kejelasan kepemimpinan dan karya yang menonjol di tingkat nasional, akan banyak berpengaruh terhadap perolehan suara partai. Mengapa ? Karena Partai lain telah sampai pada hipotesa ini jauh-jauh hari.
Kemenangan Demokrat banyak sekali ditentukan oleh figur SBY. Meskipun banyak caleg Demokrat masih berupa tanda tanya buat publik, namun leadership SBY -lah terutama yang mampu mengkatrol mereka. Langkah yang cerdik dari Demokrat (atau cuma kebetulan saja). Survey terakhir menunjukkan keunggulan s/d 24% bagi partai demokrat. (Jika yang disurvey pada datang semua ke bilik suara).
Iklan PKS yang menonjolkan tokoh non PKS pada iklan kontroversial beberapa waktu yang lalu, turut menegaskan image partai yang berspektrum terlalu luas tanpa differensiasi yang jelas yang akan mampu menusuk benak publik. PKS malah terlihat sebagai partai yang tidak percaya kemampuan kadernya (meskipun akhirnya ada iklan yang menonjolkan Anton Apriantono, namun mungkin masih kalah level dengan SBY maupun JK, dan mungkin sudah terlambat). Padahal mungkin tujuan iklan tersebut adalah menghapus kesan Islam-Centric menuju Islam-Nasionalis, namun tangkapan publik jauh panggang dari api.
Kedua, tentang iklan PKS yang menyatakan bahwa PKS -lah satu-satunya Partai yang mengembalikan uang korupsi sebesar sekian milyar. Kami melihat ini blunder, karena berarti PKS mengakui melakukan korupsi. Pemilih baru akan hesitated / ragu dengan fakta ini.
Kami meyakini, PKS sebenarnya telah memasang sensor indikator untuk memonitor faktor tokoh atau figur ini. Tapi mungkin mereka cukup puas “menerima” kenyataan bahwa ternyata tidak ada satupun tokoh PKS yang cukup kuat mengkatrol suara partai. Dan mungkin yang malah tidak diduga PKS adalah kenyataan bahwa ketiadaan tokoh yang kuat justru akan membuat bleeding terhadap suara PKS, karena pada saat bersamaan swing voter tersedot ke arah tokoh kuat partai lain.
Mungkin inilah dilema partai kader yang kuat. Sangking kuatnya kader, sampai-sampai figur tokoh ‘tenggelam’ oleh imaji para kadernya yang solid. Hal ini mirip dengan kekuatan massa NU sewaktu dipegang Idham Chalid, sebelum akhirnya muncul pendekar dari Jombang: Gus Dur yang merubah peta pengkaderan NU, dengan cara berani mengambil resiko ‘keluar’ dari fatsun politik NU dengan mendirikan FORDEM, Petisi50, dll (sebagai langkah responsif isue-isue kebangsaan diluar urusan ke-NU-an).
Sebagai Partai berbasis kader, PKS telah menunjukkan bukti yang positif. Lihatlah setiap contest SMS, kebanyakan PKS unggul menunjukkan network PKS yang kuat yang terjalin baik dan tidak ketinggalan jaman. Tinggal bagaimana kader-kader ini menembak sasaran yang tepat dan dengan cara yang tepat di level kebangsaan karena ada inspirator visioner di depan yang memimpin jalan. (Buat apa cuma menang contest SMS ? )
Mungkinkah ini jalan kemunculan Satrio Lelono Topo Ngrame (Igo Ilham) ?
No Comments Yet