Setelah beberapa wilayah di dunia mengintegrasikan -paling tidak- ekonominya, maka cepat atau lambat negara-negara serumpun ASEAN juga tengah menuju kesana sebagai suatu keharusan keekonomian.

Proses menuju kesana tentu tidak mudah. Banyak “tangan” yang menghendaki agar kompetisi ekonomi dunia tetap berjalan seperti sediakala dengan dominasi barat dan eropa di pucuk tertinggi dari rantai keuntungan ekonomi kapitalisme. Belum lagi faktor X dimana ada saja pemain baru yang ingin berada di pucuk tertinggi pula.

Karena itulah kita sebagai bangsa harus mewaspadai intrik-intrik global yang tengah bermain yang memperlambat terjadinya UniASEAN. Jangan sampai kita mudah terprovokasi segala tarikan yang berencana  memundurkan integrasi ASEAN.

Gejalanya mulai tampak ketika pertemuan tingkat tinggi ASEAN di Bangkok yang digagalkan oleh demonstrasi lokal. Aneh, karena Raja Bhumibol yang sangat berwibawa tidak diberi kesempatan untuk turun tangan sampai menit terakhir yang kemudian mengakibatkan gagalnya pertemuan tersebut menyepakati agenda penting menuju -setahap lagi- penyatuan ekonomi ASEAN.

Kemudian peristiwa Ambalat yang mengadu domba Indonesia dan Malaysia, padahal masalah perbatasan adalah masalah biasa dari dulunya pula. Meja perundingan adalah yang terbaik untuk menyelesaikannya karena tidak ada satu pihak yang mau merugi 100 persen. Harus ada serah terima. Kita harus menyadari pula ada kepentingan uang dan minyak di Ambalat. Dan uang (kapital) tidak bisa dikerangkeng dengan nasionalisme. Janganlah kita melupakan cerita minyak di balik memisahnya Timor Leste.

Karena itu peristiwa kecil semacam Manohara dan rentetan pengungkapan berita penyiksaan TKI di negeri jiran Malaysia juga bisa berada dalam perspektif ini. Kita harus cukup berhati-hati.

Bagaimanapun kita semua adalah saudara. Baik Malaysia dan Indonesia adalah salah satu dari sekian banyak bangsa yang sesaudara dan dekat satu sama lain.

Anda tahu pendiri Angkor Wat di Kamboja/Khmer pada abad ke 12 ? Namanya adalah  Jayavarman II. Kalau merujuk namanya mirip dengan raja pertama kerajaan Kutai pada abad ke 4 yakni Aswawarman di pulau Kalimantan. Ini adalah salah satu bukti mudah bahwa kita semua adalah serumpun. Ayah Aswawarman yakni Kudungga adalah pembesar dari kerajaan Campa yang wilayahnya dulu menyebar di Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, Malaysia dan Pulau Hainan (Tiongkok). Belum lagi kemiripan bahasa dan lainnya. Bukti paling jelas adalah kemiripan ciri fisik yang menonjol.

Cepat atau lambat kita akan menyatu, karena itu dibutuhkan kedewasaan berpikir dan mencegah suatu hal menjadi tidak terkendali. Paling tidak semakin lama kita menyatu, semakin tertinggallah kita secara ekonomi.


Leave a Comment